TRENDING NOW

BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber
Dalam kasus terorisme, media memang terkenal tidak adil dalam memberitakan Islam. Islam menjadi agama yang paling banyak disudutkan dalam aksi kekerasan. Jika pada kasus pemboman Bali, Gerakan Amrozi Cs dicari sampai ke akar-akarnya, bahkan ditumpas tak bersisa, menjadi lain ceritanya jika Kristen yang melakukan tindakan sama. Seakan media menjadi bungkam seketika.
Dalam kasus kerusuhan Poso misalnya, pengadilan hanya berhenti pada nama tiga orang terdakwa Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, dan tidak pernah diteruskan kepada siapa dibalik mereka sampai ke anggota-anggotanya. Padahal jelas Tibo cs bertindak atas nama gerakan.
Begitu juga dalam peberitaan internasional. Bush dan serdadunya -yang dikorbankan semangat Fundamentalisme Kristen-yang membunuh jutaan umat muslim di Timur Tengah, seakan-akan lenyap tanpa dosa. Media-media pun tidak ada yang memanggil Bush dengan sapaan teroris. Berbeda jika Usamah Bin Ladin yang diberitakan, baik media cetak maupun televisi ramai-ramai mencapnya teroris tanpa mendudukan kronologis dan pra asumsi yang berkembang.
Kita tentu bertanya-tanya, entah mengapa jika Kristen yang melakukan aksi kekerasan, stigma teroris menjadi kebal bagi mereka. Padahal sejarah mencatat bagaimana kekejaman yang dilakuakn Kristen bukanlah isapan jempol semata, mereka tidak hanya membantai Islam, tapi juga Yahudi, kaum Pagan, pelaku bid’ah secara keji dan tak beradab. Tulisan ini bukan untuk membangkitkan luka, namun bisa jadi pelajaran bagi kita untuk meluruskan isu seputar terorisme atas nama agama.
Pembunuhan Kaum Pagan [1]
Sejak agama Kristen diresmikan pada tahun 315 M, kuil-kuil kaum Pagan makin banyak dihancurkan oleh pengikut Kristen. Pendeta kaum pagan pun banyak dibunuh. Antara tahun 315 dan abad ke-6, ribuan orang penyembah berhala disembelih. Dan itu semua dilakukan atas nama misi Gereja.
Melaksanakan ritual ibadah pagan menjadi sangat berbahaya bagi pelakunya dan terancam hukuman mati, ini sudah terjadi mulai tahun 356 Masehi. Kaisar Kristen Theodosius (408-450M) bahkan membunuh anak-anaknya sendiri karena mereka bermain-main dengan patung-patung pagan. Menurut penulis Christian Chronicles, kaisar yang melakukan hal tersebut didasari akan kepatuhan terhadap seluruh ajaran Kristen.
Akhirnya, pada abad ke 6 seluruh hak hidup para penganut Pagan dinyatakan dicabut. Bahkan sebelumnya pada awal abad ke-4, filosof Sopratos dihukum mati atas perintah penguasa Kristen.
Selanjutnya di tahun 415 M, Hypatia dari Alexandria, seorang filosof wanita yang terkenal, diseret kemudian dipotong-potong tubuhnya oleh orang-orang Kristen Koptik radikal yang dipimpin oleh pendeta Peter. Hypatia sendiri adalah seorang ilmuwan Yunani dari Alexandria Mesir. Hypatia dibunuh karena menjadi penyebab kekacauan dalam agama. Ia dijuluki sebagai "pembela ilmu pengetahuan yang gagah berani melawan agama". Dan beberapa pendapat mengatakan kematiannya menandai akhir dari zaman Hellenistik dan dimulainya zaman kegelapan (The Dark Ages).
Pembunuhan Atas Nama Misi Gereja
Selain membunuh secara kejam dan membabi buta kaum pagan, Kristen juga melakukan terorisme dan kesadisan terhadap mereka-mereka yang tidak mau ikut agamanya. Kaisar Karl (Charlemagne), misalnya, pada tahun 782 M tanpa punya nurani memenggal kepala 4500 orang Saxon, karena mereka tidak mau memeluk agama Kristen.
Kaum tani yang tidak mau membayar sumbangan kepada Gereja pun mengalami hal serupa. Mereka dijatuhi hukuman mati layaknya manusia penuh dosa. Jumlahnya pun tidak main-main, antara 5000 sampai 11.000 pria, wanita dan anak-anak, dibunuh pada tanggal 27 Mei 1234 dekat Altenesch (Jerman).
Lalu pada abad ke 16 dan 17 M, tercatat puluhan ribu warga Irlandia dibunuh. Pasukan Inggris terjun ke wilayah ini semata-mata demi menjinakkan orang-orang Irlandia yang liar. Mereka di anggap tidak lebih dari binatang yang hidup tanpa mengindahkan hukum-hukum Tuhan. Seorang pimpinan tentara Inggris yang terkenal kejam adalah Humphrey Gilbert yang memerintahkan untuk memenggal kepala semua tawanan.
Pembantaian Dalam Perang Salib
Belum lagi fakta, di Semlin dan Wieselburg (Hungaria), pada tanggal 12 sampai 24 Juni 1096 ribuan orang dihilangkan nyawanya secara kejam. Hanya dalam waktu hitungan hari dari tanggal 9 sampai 26 September 1096 sekitar 1000 orang dibunuh di Nikala atau Xerigordon (Turki).
Kita juga tidak lupa pada tanggal 11 Desember 1098, seribu orang Muslim di bantai di Marra. Tentara Salib yang lapar karena kehabisan makanan sampai-sampai mengambil daging mayat musuh yang sudah mulai membusuk dan memakannya (Christian Chronicle, Albert Aquensis).
Penaklukkan kota Jerusalem yang terjadi pada tanggal 15 Juli 1099 pun dihiasi kematian 60.000 warga Muslim, Yahudi, laki-laki dan anak-anak, yang dibunuh secara keji oleh Pasukan Perang Salib. Puluhan ribu kaum muslim yang mencari penyelamatan diatas masjid Al Aqsha pun dikejar sampai dapat dan mereka dibantai dengan sangat sadis.
Kekejaman demi kekejaman pasukan salib memang sulit dinalar oleh akal sehat. Setahun sebelumnya, pada tahun 1098, pasukan tentara bengis itu telah membunuh ratusan ribu kaum muslim di Arra’t-un-Noman, salah satu kota di Syria. [2] Mereka bergerak atas “sabda” Paus Urban yang menyeru “Killing these godless monsters was a holy act: it was a Christian Duty to exterminate thi vile race from our lands” atau “Membunuh para monster tak bertuhan itu adalah tindakan suci: adalah kewajiban umat Kristen untuk memusnahkan angsa jahat itu dari wilayah kita.”
Salah satu saksi mata sampai-sampai menyatakan bahwa ,"Genangan darah manusia di depan Kuil Solomon setinggi pergelangan kaki orang dewasa”. Sedangkan, salah seorang penulis Kristen bernama Eckehad dari Aura mengatakan, “bahkan berlanjut hingga musim panas, udara di seluruh Palestina masih tercemari oleh bau mayat-mayat yang membusuk".
Pembunuhan Terhadap Orang Bid’ah (Inkuisisi)
Sejatinya, Inkuisisi (dengan huruf I besar) adalah istilah yang secara luas digunakan untuk menyebut pengadilan terhadap bidaah oleh Gereja Katolik Roma. Undang-undang ini mengandung peraturan-peraturan yang sangat keras. Sanksi pelaku bid’ah bahkan bisa sangat mengerikan daripada kaum pagan yang jelas-jelas kafir dalam konsep mereka.
Dalam sejarahnya, Gereja Trinitarian yang menjatuhkan keputusan bersalah kepada seorang pelaku bid’ah akan memberikan hukuman tak berperi dari mulai penyiksaan, pembakaran sampai pemenggalan kepala.
Kasus ini sempat menimpa kaum Manichaean. Kaum Manichean adalah salah satu sekte yang dinyatakan bid’ah dalam Kristen karena melakukan praktek pengendalian kelahiran (KB) yang tidak diajarkan oleh Gereja Katholik. Bayangkan karena hal itu, ribuan orang Manichean menjadi korban seiring kampanye besar-besaran ke seluruh kekaisaran Romawi antara tahun 372 M sampai 444 M.
Selain pembasmian yang menimpa kaum Manichean, hal serupa juga menimpa kelompok Cathars. Orang-orang Cathars pada dasarnya menganut Kristen dengan baik, tetapi pada sisi lain mereka menolak segala peraturan Gereja Katholik Roma yang dirasa tidak adil seperti pajak dan larangan pengendalian kelahiran.
Lantas hanya karena hal itu, Paus Innocent III memerintahkan untuk membunuh para pengikut Cathars di tahun 1209. Kota Beziers (Perancis) pada tanggal 22 Juni 1209 pun dihancurkan. Semua makhluk yang hidup di dalamnya pun dibantai tanpa ampun. Jumlah korban menurut catatan sejarah berkisar pada angka 70.000 manusia, angka itu termasuk jumlah pemeluk Katolik yang menolak untuk menyerahkan tetangga dan sahabatnya yang di kategorikan bid’ah oleh Gereja.
Bid;ah lainnya yang juga dilakukan oleh Waldensians, Paulikians, Runcarians, Josephite dan lain-lain juga dienyahkan hingga tak bersisa. Ratusan ribu orang kemudian mati tak bernyawa oleh kekejeman pihak gereja. Bahkan John Huss, yang mengkritisi "Papal Infallibility" (Kemustahilan Paus berbuat salah) dan Surat penebusan dosa, dibakar hidup-hidup di tiang pancang pada tahun 1415.
Pembunuhan Terhadap Yahudi
Yang juga turut mengalami kekejaman selain Islam adalah kaum Yahudi. Max Margolis dan Alexander Marx dalam “A History of Jewish People” menceritakan bahwa pada periode 612-620 M, banyak kasus terjadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Euric (680-687) membuat keputusan bahwa seluruh orang Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan dibawah pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Setelah diKristenkan secara paksa, orang-orang Yahudi itu tetap diawasi secara ketat oleh gereja, takut kalau-kalau mereka kembali melakukan ibadah Yahudi.
Bahkan Raja Egica (687-701) membuat keputusan bahwa semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak. Keputusan sepihak itu tidak saja berlangsung dalam satu sampai dua tahun, namun untuk selamanya. Harta benda kaum Yahudi disita dan mereka diusir dari rumah-rumah sehingga tersebar ke berbagai provinsi. Lebih dari itu anak-anak Yahudi yang berumur tujuh tahun ke atas diambil paksa dari orangtuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. [3]
Selanjutnya pada tahun 1096, saat Perang Salib pertama, ribuan orang Yahudi dibunuh oleh Salibis Kristen di kota Worm teparnya pada tanggal 18 Mei 1906, di Mainz. Lalu pada tanggal 27 Mei 1096 sekitar 1100 orang Yahudi juga mengalami pembantaian.
Dalam Perang Salib itu, tercatat 12.000 orang Yahudi dibunuh dimana tempatnya membentang dari Worms, Mainz, Cologne, Neuss, Altenahr, Wevelinghoven, Xanten, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Regensburg, Prag hingga Metz di Perancis.
Sedangkan pada tahun 1348 nasib naas juga dialami Yahudi, dua ribu orang diantara mereka dibunuh di Bassel (Swiss) dan Strassbourg. Sedangkan pada tahun 1349 diKita Praha, data menyatakan bahwa 3000 orang Yahudi telah tewas terbunuh. Sedang pada 42 tahun selanjutnya, takni pada tahun 1391, kaum Yahudi Seville habis oleh Kardinal Martines. Dalam catatan sejarah tercatat sebanyak 4000 orang Yahudi tewas dan 25.000 lainnya dijual sebagai budak.
Ternyata itu pun belum berakhir. Abad 15 adalah abad yang menjadi saksi pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 misalnya, 13.ooo orang Yahudi dieksekusi atas perintah komandan inquisisi Spanyol, Faray Thomas de Torquemada.
Jatuhnya Granada ke tangan Spanyol juga berbuah ancaman bagi Yahudi. Hanya dalam beberapa bulan antara akhir April sampai 2 Agustus 1492, sekitar 150.000 kaum Yahudi diusir dari Spanyol. Sebagian besar dari mereka kemudian mengungsi ke wilayah Turki Utsmani yang menyediakan tempat aman bagi Yahudi.
Stand J Shaw dalam “The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic” mencatat jumlah Yahudi yang terusir dari Spanyol tahun itu sebanyak 160.000. Dari jumlah itu, 90.000 mengungsi ke Turki. 25.000 ke Belanda, 20.000 ke Maroko, 10.000 ke Prancis, 10.000 ke Italia dan 5.000 ke Amerika. Yang mati dalam perjalanan diperkirakan 20.000 orang. Sedangkan yang dibaptis tetap di Spanyol sebanyak 50.000 orang. [4]
Kekejeman Terhadap Muslim di Guantanamo
Dalam perkembangan modern, terror Kristen pun tidak pernah berhenti. Kebencian mereka terhadap Islam dilakukan dalam jejak-jejak pemerintahan Amerika Serikat. Mereka tidak saja membasmi jutaan umat muslim di Afghanistan, Pakistan, Kaukasus, Somalia, Palestina, Bosnia tapi juga menahan tawanan-tawanan muslim di penjara terkejam di Guantanamo. Umat muslim disiksa, dilecehkan, namun lagi-lagi tidak ada yang menyebut mereka dengan sapaan teroriss, bahkan sampai detik ini.
Lawrence Wilkerson, asisten mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell, pernah membuat pengakuan dalam suatu pernyataan yang ditandatangani untuk mendukung gugatan yang diajukan oleh seorang tahanan Guantanamo, Adel Hassan Hamad.
Hamad, seorang pria Sudan yang ditahan di Teluk Guantanamo sejak Maret 2003 sampai Desember 2007, mengklaim bahwa dia mengalami penyiksaan oleh agen-agen AS saat berada di dalam tahanan dan mengajukan gugatan terhadap beberapa nama pejabat Amerika.
Menurut Wilkerson, baik Dick Cheney maupun Donald Rumsfeld sebenarnya mengetahui bahwa sebagian besar dari 742 tahanan yang pertama kali dikirim ke Guantanamo pada tahun 2002 adalah mereka yang tidak bersalah, tetapi yakin bahwa ada kemungkinan untuk membiarkan para tahanan itu bebas.
Wilkerson, yang menjabat sebagai kepala staf Powell sebelum ia meninggalkan pemerintahan Bush tahun 2005, mengklaim bahwa sebagian besar tahanan, yang terdiri dari anak-anak berumur 12 hingga kakek-kakek setua 93 tahun, tidak pernah melihat seorang tentara AS sebelumnya, kecuali setelah mereka ditangkap.
Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Rumsfeld dan Cheney pada khususnya, tidak punya belas kasihan bagi orang yang tak bersalah dan harus mendekam di Guantanamo selama bertahun-tahun, serta harus mengalami penderitaan hanya demi kepentingan AS untuk membenarkan perang melawan terornya.
“Dia (Cheney) sama sekali tidak memiliki kekhawatiran bahwa sebagian besar tahanan Guantanamo itu tidak bersalah … Jika ratusan individu yang tidak bersalah harus menderita,” kata Wilkerson.
Selanjutnya, Mohammad al-Kahtani, tersangka ke-20 peledakan serangan 11 September yang ditahan di Teluk Guantanmo, Kuba dalam sebuah catatan harian penjara mengaku dipaksa telanjang sambil menirukan gonggongan anjing saat menjalani penyidikan.
Saat tengah malam, kepala Kahtani kerap digebyuri air dan telinganya dijejali musik-musik keras karena mendadak harus menjalani pemeriksaan. Permintaannya untuk shalat senantiasa ditolak.
Selain itu, warga Arab Saudi ini juga diinterogasi di sebuah ruangan yang didekorasi dengan gambar-gambar korban 11 September. Sudah tak terhitung berapa kali dia harus kencing di celana karena ketakutan. Harga dirinya juga dicabik-cabik ketika lehernya dikalungi gambar wanita setengah bugil. Sampai pernah suatu saat dia minta diperbolehkan bunuh diri.
Gambar-gambar yang sangat mengagetkan dunia, mengenai bagaimana para tahanan diperlakukan pernah beredar di awal tahun 2002 silam. Kondisi mereka lemah, dalam pakaian oranye yang menyala, mata, mulut, dan telinga disekap, kedua tangan dan kaki dirantai. Sel-selnya seperti kandang ayam. Kawat- kawat berduri melintang ke sana kemari siap merobek kulit dan daging.
Selanjutnya, Mohammed Sagheer, 52 tahun, seorang da’i Pakistan yang telah dikeluarkan dari Guantánamo juga menglima terror mental. Para sipir penjara menurutnya menggunakan obat untuk mengendalikan para tahanan. Sagheer menyatakan bahwa para tentara itu memberi tahanan sebuah tablet yang akan membuat para tahanan tak sadarkan diri.
“Saya sembunyikan tablet-tablet itu di bawah lidah, lalu membuangnya begitu penjaga tidak melihat,” katanya. Sagheer mengaku dua kali dihukum di sel isolasi yang gelap karena meludahi penjaga, yang menurutnya telah memprovokasinya dengan melempar Qur’an dan memukulinya. 
BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber
Sungguh prihatin ketika saya berdiskusi dengan beberapa orang kristen dimana mereka menyampaikan argumen-argumen yang ternyata tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. Mereka begitu memaksakan sebuah pengertian Ketuhanan agar cocok dengan ajaran yang mereka yakini selama ini karena memang apa yang mereka yakini ternyata tidak sesuai dengan ajaran Nabi yang mereka Tuhankan. Berikut beberapa pembodohan yang dilakukan oleh ajaran kristen.
  1. Kristen lahir dari kalangan bangsa Israel yang dikenal sebagai keturunan Nabi Ibrahim yang mengajarkan ajaran monotheism sehingga ketika berbicara masalah keEsaan Allah maka mereka akan berusaha mencocok-cocokkannya dengan ajaran trinitas. Contohnya adalah ketika berbicara tentang ayat Markus 12:29 maka akan jadi seperti ini, â€œJawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa (Bapa, Putera dan Roh Kudus)”. Mereka menganggap bahwa Tiga pribadi Allah ada dalam keesaan. Tahukah anda bahwa dalam ilmu pengetahuan, Esa itu hanya berkaitan dengan faham monotheism. Sedangkan bila ada yang mengatakan bahwa ada banyak pribadi Tuhan yang berasal dari keesaan Allah, maka itu dinamakan faham soft politheism. Faham monotheism dan soft politheism jelas berbeda. Silahkan anda cari perbedaannya di wikipedia atau disitus yang menjelaskannya melalui google. Kristen membutakan diri bahwa ajaran trinitas mereka masuk dalam faham soft politheism dan tetap saja ngotot bahwa ajaran mereka adalah ajaran monotheism.
  2. Esa dan Tunggal (tritunggal/trinitas) dikatakan memiliki pemahaman yang berbeda, untuk lebih meyakinkan diri bahwa ajaran tritunggal/trinitas kristen adalah ajaran monotheis, maka mereka mengatakan bahwa Esa itu adalah bentuk satu yang tidak mutlak sedangkan tunggal bentuk satu yang mutlak. Padahal kalo kita mau lebih berfikir, maka Esa=satu=1 adalah sebuah bilangan mutlak yang tidak tergantung pada apapun, berbeda dengan tunggal yang lebih situasional dimana tunggal baru bisa terjadi bila tidak ada jamak dan tunggal bisa hilang bila ada jamak. Tunggalpun bisa dikondisikan dari sesuatu yang jamak, contohnya adalah manunggal, tritunggal atau politunggal. Kristen ngotot bahwa Esa adalah satu yang tidak mutlak dan tunggal adalah mutlak. Padahal ajaran Esa ini adalah ajaran para Nabi, kristen seolah2 mengatakan bahwa ajaran Ketauhidan para Nabi adalah ajaran yang tidak mutlak.
  3. Didalam Alkitab jelas dikatakan bahwa para Nabi mengajarkan tentang ajaran Allah yang melarang adanya penyembahan kepada berhala. Lalu apa pengertian berhala itu? Dari beberapa kamus ilmu pengetahuan bisa ditarik kesimpulan bahwa berhala adalah segala bentuk fisik yang dianggap sebagai representasi dari Tuhan atau Tuhan yang bisa digambarkan. Kristen adalah ajaran penyembahan kepada Yesus (bentuk fisik) yang dianggap sebagai representasi dari Allah/Tuhan, maka dari pengertian tentang berhala maka bisa dikatakan bahwa Kristen adalah penyembah berhala. Namun karena kristen mengaku ajarannya berasal dari Alkitab, maka mereka membutakan diri tentang pengertian berhala tersebut dan tetap ngotot bahwa Yesus adalah Tuhan.
  4. Konsep penebusan dosa dengan kematian Yesus dikayu salib yang kemudian bangkit dihari ketiga menjadi ajaran utama dalam kristen. Dikatakan bahwa Yesus harus mati demi menebus dosa-dosa orang kristen. Tahukah anda bahwa menurut ilmu pengetahuan, manusia yang mati kemudian hidup kembali disebut mati suri. Mati suri itu bukanlah mati, melainkan hanya dekat dengan kematian karena yang namanya mati itu tidak akan hidup kembali. Jadi bila Yesus mati ditiang salib lalu kemudian bangkit kembali, maka Yesus hanya dikatakan mengalami mati suri. Jadi bila Yesus tidak mati dan hanya mengalami mati suri, maka tentu saja tidak ada dosa yang ditebus. Namun kristen membutakan diri bahwa Yesus hanya mengalami mati suri/tidak pernah mati dan tetap ngotot mengatakan bahwa Yesus benar2 mati disalib walau kronologis selanjutnya Yesus ditemukan kembali masih hidup.
  5. Kristen dikatakan bukanlah sebuah agama melainkan hanya sebuah ajaran yang meneladani Yesus. Jadi orang-orang kristen dianggap sebagai pengikut ajaran monotheism Yahudi yang dianut oleh Yesus. Maka tidaklah heran ada beberapa orang kristen yang memegang adat-adat yahudi dalam kekristenan mereka agar seolah-olah kristen adalah ajaran monotheism seperti yahudi. Apakah pengertian agama itu sendiri? Agama adalah sebuah sistem kepercayaan kepada Tuhan. Jadi apabila ada yang diTuhankan dalam sebuah ajaran, maka ajaran itu adalah sebuah agama. Karena Kristen memiliki Yesus sebagai yang diTuhankan maka Kristen adalah sebuah agama tersendiri. Banyak orang kristen yang ngotot mengatakan bahwa ajaran mereka bukanlah sebuah agama dan menutup mata dari pengetian agama itu sendiri.
BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber
Penampilan Yesus sering digambarkan berambut gondrong panjang, berkulit putih, dan berjambang, tidak memiliki dasar apapun yang jelas. 1 Korintus 11:14-15 yang ditulis oleh Paulus mengatakan 'Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki jika ia berambut panjang. Tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan jika ia berambut panjang' Jika memang betul Yesus itu berambut gondrong seperti figure atau gambaran yang ada, baik dalam lukisan maupun patung. Bukankah ini adalah sebuah celaan dari Paulus untuk Yesus? Perhatikan kata 'kehinaan bagi laki-laki jika ia berambut panjang', kenapa Paulus berani-beraninya mencela kegondrongan rambut Yesus? Kalau ia memang betul-betul murid Yesus dan pernah bertemu Yesus.
Ketiadaan dasar yang jelas perihal penampilan fisik Yesus tersebut, tentunya sebagai manusia yang kritisakan timbul berbagai pertanyaan;
1. Seperti apakah penampilan Yesus sesungguhnya? Betulkah ia berambut gondrong dan berkumis serta brewok seperti gambaran yang ada saat ini? Bagaimana jika Gereja tidak memilki patung Yesus yang berambut gondrong panjang, tentu terasa ‘kurang’ bukan?. Bukannya semua Gereja pasti memiliki setidaknya lukisan, fragmen, atau patung Yesus dengan rambut gondrongnya. Doktrin agama seharusnya memiliki dasar kebenaran yang jelas. Jika tidak, apa bedanya dengan mitos-mitos atau dongeng lainnya.
2. Jika memang Yesus tidak gondrong seperti gambaran yang ada, lalu siapa orang yang pertama kali menyebarkan gambaran figure Yesus yang berambut gondrong? Hebatnya, orang-orang ini telah sukses membuat skenario yang diyakini oleh banyak orang di dunia, kalau Yesus itu gondrong. Bila persoalan rambut dan penampilan fisiknya Yesus saja dapat dimanipulasi, lalu apa susahnya memalsukan ajaran Injil lainnya, dan menyebarkan pada penganutnya. Coba direnungkan.
3. Kemungkinan selanjutnya, yaa..... mungkin saja Yesus itu memang gondrong, tapi kalau begitu berarti Paulus tidak pernah ketemu dengan Yesus dong! Jika dia memang betulan murid Yesus, masa sih dia berani mencela Yesus. Kalau Paulus memang di ilhami Roh Kudus yang oleh umat Kristen diyakini sebagai oknum Tuhan, kenapa dia mencela Yesus? Berarti dia mencela dirinya sendiri.
no image
BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber
AKHIR-akhir ini dunia maya dihebohkan dengan video di Youtube berjudul “Kristenisasi Terselubung di Car Free Day”. kesaksian Kristen
Video yang diunggah 3 November 2014 ini merekam aksi sebuah kelompok yang memanfaatkan momen car free day di Jakarta untuk melakukan misi Kristenisasi.
Meski kelompok tersebut membantah adanya misi Kristenisasi, namun dalam video yang diunggah oleh rtkChannel HD ini, terlihat seorang wanita tertangkap kamera sedang mengajak seorang nenek berjilbab untuk mempercayai Yesus.
Aksi provokatif tersebut dapat dilihat pada menit 14:17 hingga menit ke 15:00. Wanita berkaus hitam dan bertopi putih dengan nada membujuk mengajak seorang nenek berkerudung untuk mempercayai Yesus. Melihat hal itu, tim rtkChannel HD menegurnya.
“Ya ampun, Bu. Jangan begitu dong, Bu. Saya denger, Bu. Kenapa Ibu tahu itu dia pakai kerudung, disuruh percaya sama Yesus,” kata tim rtkChannel HD membuat kaget misionaris tersebut. Sadar aksinya dipergoki, ia pun kemudian meminta maaf dan pergi meninggalkan calon korbannya tersebut. [Lihat: Heboh Kristenisasi Terselubung di Car Free Day Jakarta, Beritapopuler.com, Ahad (9/11)]
Sulit rasanya untuk menampik adanya upaya Kristenisasi terselubung dalam aksi tersebut. Mengingat dogma-dogma Nashrani disuntikkan secara sistematis kepada remaja-remaja muslim.
Sejatinya problem Kristenisasi bukanlah masalah baru di Indonesia. Sejak ratusan tahun umat Islam Indonesia telah berjuang di garis depan untuk mempertahankan akidahnya dari upaya pemurtadan.
Tahun 1964, tokoh Kristen Batak, Dr. Walter Bonar Sidjabat, menegaskan misi sejati kehadiran Kristen dan Gereja-gereja di seluruh pelosok Indonesia tak lepas dari agenda Kristenisasi. Dalam pengantar bukunya Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, Sidjabat menulis:
“Kita terpanggil untuk mengikrarkan iman kita di daerah-daerah berpenduduk berambut keriting, berombak-ombak dan lurus-lurus, di tengah penduduk berkulit coklat, coklat tua, kuning langsat dan sebagainyaGuna penuaian panggilan inilah gereja-gereja kita berserak-serak di seluruh penjuru Nusantara agar rakyat yang “bhineka tunggal ika”, yang terdiri dari penganut berbagai agama dan ideologi dapat mengenal dan mengikuti Yesus Kristus.” [Lihat: Dr Sidjabat, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1964]
Kejadian Car Free Day tentu membuat kita miris. Ternyata praktek penyebaran paham Kristen dilakukan di tengah masyarakat sedang menikmati waktu luang. Meski berbagai simbol Kristen sudah familiar, ternyata banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Jikapun ada yang paham, mereka terlihat acuh.
Sikap acuh umat Islam terhadap invasi akidah inilah yang membuat populasi umat Islam di Indonesia terus menurun. Data Kementerian Agama mencatat jumlah pemeluk agama Islam mengalami penyusutan tiap tahunnya. Dari yang semula 95 persen hingga menjadi 92 persen. Kemudian tahun berikutnya menjadi 90 persen dan kemudian menjadi 87 persen.
Sementara data terakhir Badan Pusat Statistik pada 2010 menunjukkan, persentase umat Islam 87,18 persen; Kristen 6,96 persen; Katolik 2,91 persen; Hindu  1,69 persen; Budha 0,72 persen; Konghucu 0,05 persen; dan lainnya 0,13 persen.
Selain itu, ada kelompok yang tidak terjawab 0,06 persen dan tidak ditanyakan 0,32 persen. [Lihat: Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianuthttp://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321]
Saat masih menjabat sebagai Menteri Agama, Suryadharma Ali mengaku heran dengan penurunan jumlah umat Islam. Dia mengaku resah dan menyesalkan kenapa hal ini bisa terjadi. “Padahal, di sisi lain jumlah penduduk Indonesia terus bertambah. Tapi, mengapa jumlah umat Islamnya sendiri malah terus berkurang,” kata dia.
Bagi kaum Muslim, persoalan misi Kristen, bukanlah masalah sepele. Orang yang berganti agama, keluar dari agama Islam, dalam pandangan Islam disebut orang yang murtad dan kafir. Amal perbuatan mereka tidak diterima oleh Allah (QS 2:217, 24:39).
Problem melawan arus Kristenisasi memang susah-susah mudah. Dalam beberapa kasus, menunjukan adanya problematika yang berbeda. Dari mulai ekonomi, politik, budaya hingga kosongnya peran dakwah. Kadang dibutuhkan pendekatan integral untuk menghadapi kompleksitas masalah Kristenisasi.
Tapi kendala-kendala itu bukan mustahil untuk diselesaikan oleh umat Islam. Banyak kiprah dakwah di pedalaman yang mengukir kisah sukses. Dari mulai warga yang kembali ke Islam setelah dikristenkan, kisah muslimah yang diselamatkan dari upaya kawin lari oleh pendeta, hingga perjuangan sebuah keluarga miskin yang tebal imannya meski diimingi-imingi ekonomi oleh gereja.
Berkat dakwah para da’i pula banyak angka buta Qur’an dapat ditekan. Kisah-kisah seperti ini sudah sepatutnya diangkat sebagai motivasi bagi kita semua.
Kolom Agama: Penguatan Identitas Warga Negara
Tentu maraknya Kristenisasi harus diimbagi dengan penguatan identitas keagamaan warga negara. Hemat penulis, pengosongan kolom agama akan meningkatkan potensi Kristenisasi kepada umat Islam.
Jika mengacu pada “kasus” Car Free Day, tentu kita bertanya-tanya: Jika seorang muslimah yang jelas-jelas memakai jilbab saja masih diajak untuk meyakini ajaran Kristen, bagaimana mereka yang tidak memakai identitas agamanya?
Seharusnya pemerintah berpikir ulang untuk menggulirkan ide bolehnya pengosongan kolom agama. Sudah sepatutnya pemerintah mendengarkan pihak-pihak terkait, khususnya Majelis Ulama Indonesia sebelum mengeluarkan wacana ini.
Jika kita ingin berpikir jauh, penghapusan kolom agama rentan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk membuka keran praktek-praktek penodaan agama, kristenisasi, hingga celah masuknya ateisme.
Kita tidak dapat membayangkan, jika kolom agama di KTP boleh dikosongkan, bagaimana seorang siswa muslim dapat mengetahui haknya bahwa guru agama mereka adalah seorang ustadz bukan pendeta. Bahwa pria yang ingin dinikahi seorang muslimah benar muslim, bukan Yahudi.
Sikap Umat Islam terhadap Kristenisasi
Berkaca dari maraknya Kristenisasi, sudah seharusnya kelompok Kristen menyadari betul bahwa akidah dalam ajaran Islam adalah segala-segalanya. Islam adalah agama toleran, tapi umat Islam bisa tegas jika urusan akidah dikooptasi.
Hal ini berbeda dengan Islam. Islam tidak pernah memaksa kaum Kristiani masuk agam Islam. Mendesak seorang Pendeta dengan todongan senjata agar mau memeluk Islam. Karena Islam mengenal ayat Lakum Dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.
Umat Islam menghargai berdirinya hak beribadah kaum kristiani di gereja. Tapi umat Islam bisa bereaksi ketika KTP mereka dipalsukan untuk memuluskan pendirian gereja ilegal.
Mohammad Natsir yang dikenal lembut dan bersahaja bisa sangat tegas jika kelompok Kristen memaksakan keimanan kepada umat Islam. Dalam sebuah khutbahnya, pahlawan nasional itu meminta kepada kelompok Kristen untuk tidak bermain api dengan akidah kaum muslimin.
“Isyhaduu bi annaa muslimun! Saksikanlah (dan akuilah) bahwa kami ini adalah Muslimin! Yakni orang-orang yang sudah memeluk agama. Agama Islam. Orang-orang yang sudah mempunyai identitas, yakni Islam. Janganlah identitas kami saudara ganggu. Jangan kita ganggu mengganggu dalam soal agama ini…” tegasnya.
Kita berharap ada langkah-langkah strategis dari pihak-pihak terkait agar kasus ini tidak terulang. Umat Islam dituntut untuk menambah ilmu pengetahuan agar modus-modus seperti ini bisa diendus dan dapat terhindar dari praktek Kristenisasi terselubung. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.
BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber

Assalamualaikum wrwb,
Saya penasaran dengan cerita teman saya yang mengatakan bahwa sebenarnya pada tanggal 25 desember diperingati untuk menyembah dewa matahari, pada hari itu rakyat yunani kuno melakukan upacara dengan pesta mabuk-mabukan dan melakukan ( maaf ) pesta seks. Untuk membujuk rakyat yunani agar mau memeluk agama kristen, sang raja harus tetap mengizinkan rakyatnya melakukan pesta pada tanggal 25 desember seperti biasanya. singkat cerita dipilihlah tanggal 25 desember menjadi hari natal umat kristen karena alasan tersebut. Terus terang saya masih belum jelas tentang hal tersebut, karena itu saya mohon penjelasan detailnya.  Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.Sejarah Natal
Saya sangat senang denagan cerita-cerita tentang sejarah  kejayaan Islam. saya tertarik denagan artikel mengenai suku indian yang telah memeluk agama Islam, kira-kira dimana saya dapat mengetahui artikel atau buku tentang hal itu, mohon petunjuknya.  Terima kasih Pak.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara Richi yang dirahmati Allah Swt, pertama kali yang ingin saya tekankan jika perayaan 25 Desember itu berasal dari perayaan kaum pagan Roma Kuno (Romana), bukan Yunani (Greek). Jerusalem dan sekitarnya di masa sebelum dan setelah Nabi Isa a.s lahir berada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi.
Bangsa Romawi ketika itu memeluk agama pagan dengan memuja dewa-dewi yang jumlahnya sangat banyak dan terkenal sangat mengumbar kesenangan ragawi. Mereka menganggap raga yang sempurna, kecantikan lahiriah, sangat penting dan kenikmatan ragawi merupakan kenikmatan yang harus dikejar selama-lamanya. Sebab itu, lelaki Roma sangat gandrung pada olahraga yang bisa membentuk kekuatan fisik, memperbesar otot-otot badannya, dan juga merawat seluruh tubuhnya. Sekarang, kebiasaan lelaki Roma ini diwarisi oleh apa yang disebut sebagai Pria Metroseksual.
Sedangkan perempuan Roma, juga sangat memelihara tubuhnya dan sisi sensualitasnya. Mereka akan sangat bangga jika dikejar-kejar banyak pria. Bahkan bukan rahasia lagi jika perempuan Roma saat itu belomba-lomba untuk dijadikan “piala bergilir” para lelaki Roma. Tanggal 14 Februari selalu ditunggu-tunggu oleh mereka untuk memuaskan hasrat rendahnya dengan menggelar pesta syahwat di seluruh kota. Inilah yang sekarang dirayakan banyak orang sebagai Hari Valentine, yang sesungguhnya berasal dari Hari Perayaan Perzinahan.
Keyakinan inti pagan Roma itu berasal dari dua sumber, yakni tradisi Osirian Mesir kuno dan ilmu-ilmu sihir Babylonia. Keduanya bergabung dan sekarang dikenal sebagai Kabbalah. Mereka memiliki hari-hari istimewa yang dirayakan setiap tahun, termasuk tanggal 25 Desember yang dirayakan sebagai Hari Kelahiran anak Dewa Matahari atau Sol Invictus. Sebagian ahli menganggap istilah “Anak Dewa Matahari” itu dinisbatkan pula kepada Namrudz, Raja Babylonia, yang mengejar-ngejar Nabi Ibrahim a.s.
Mereka percaya, anak Dewa Matahari ini lahir di hari Minggu. Sebab itu mereka menamakan hari Mingu sebagai Sun Day, Hari Matahari. Mereka juga beribadat di hari tersebut. Semua ini diadopsi kekristenan sampai sekarang.
Hari Natal memiliki arti sebagai Hari Kelahiran. Hanya Gereja Barat yang merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, sedangkan Gereja Timur tidak mengakui Natal pada 25 Desember tersebut. Lucunya, di tahun 1994, Paus Yohanes Paulus II sendiri telah mengumumkan kepada umatnya jika Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada 25 Desember. Tanggal itu dipilih karena merupakan perayaan tengah-musim dingin kaum pagan. Saat itu umat Katolik gempar, padahal banyak sejarawan telah menyatakan jika 25 Desember tersebut sebenarnya merupakan tanggal kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Dionisius, dan lain-lain.
Kisah yang sesungguhnya tentang hari Natal bisa kita cari di internet, antaa lain tulisan yang dibuat oleh Pastor Herbert W. Amstrong, sejarawan Kristen yang menentang banyak hal tentang Natal pada tanggal 25 Desember. Yang banyak orang tidak mengetahui, keseluruhan dasar bangunan kekristenan sekarang ini sesungguhnya dibangun atas kerangka dasar ritus pembaharuan Osirian di Mesir kuno. Beberapa di antaranya adalah:
Pertama, Yesus dianggap anak Allah, ini sama dengan keyakinan kultus Dionisius yang sudah ada berabad sebelum Yesus lahir.
Kedua, Yesus dilahirkan di kandang, ini sama seperti kisah Horus yang lahir di kuil-kandang Dewi Isis.
Ketiga, Yesus mengubah air menjadi anggur dalam perkawinan di Qana, ini sama seperti apa yang dilakukan Dionisius.
Keempat, Yesus membangkitkan orang dari kematian dan menyembuhkan si buta, ini sama seperti Dewa Aesculapius;
Kelima, Yesus diyakini bangkit dari kematian di makam batu, sama seperti Mithra.
Keenam, Yesus mengadakan perjamuan terakhir dengan roti dan anggur di mana sampai sekarang ritual ini masih tetap berjalan di gereja-gereja, padahal ritual roti dan anggur merupakan simbolisasi penting dalam tradisi Osirian, dan juga hampir semua ritual pagan yang memuja Dewa Yang Mati seperti halnya pemuja Dionisius dan Tammuz;
Ketujuh, Yesus menyebut dirinya penggembala yang baik, ini meniru peran Tammuz, yang berabad sebelumnya telah dikenal sebagai Dewa Penggembala;
Kedelapan, Istilah ‘The Christ’ pada awal kekristenan tertulis ‘Christos’, sering tertukar dengan kata lain dalam bahasa Yunani, Chrestos, yang berarti baik hati atau lembut. Sejumlah manuskrip Injil berbahasa Yunani dari masa awal malah menggunakan kata Chrestos di tempat yang seharusnya ditulis dengan Christos. Orang-orang di masa itu sudah lazim mengenal Chrestos sebagai salah satu julukan Isis. Sebuah inskripsi di Delos bertuliskan Chreste Isis.
Kesembilan, dalam Injil Yohanes 12: 24, Yesus mengatakan, “Seandainya biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika dia mati ia akan menghasilkan banyak buah”. Perumpamaan dan konsep ini jelas berasal dari konsep ritual Osirian;
Kesepuluh, dalam Injil Yohanes 14:2 Yesus mengatakan, “Di rumah bapakku banyak tempat tinggal.” Ini benar-benar berasal dari Osiris dan dicopy-paste dari Book of the Dead, Kitab Orang Mati Mesir Kuno yang dipercaya disimpan di kota kematian, Hamunaptra. Ini baru sebagian contoh.
Simbol Salib yang dipergunakan oleh kekristenan dahulu hingga sekarang (juga Katolik) jelas-jelas merupakan simbol Osirian kuno. Bahkan Kristen Koptik di Mesir mengambil simbol Ankh, salib Osiris dalam bentuk asli, sebagai simbol gerakannya. Masih banyak lagi kesamaan konsep kekristenan dengan agama-agama pagan Mesir Kuno, seperti dalam kebangkitan Yesus dari kematiannya, sosok Maria Magdalena dan perannya bersama Yesus, ritus pembaptisan oleh Yohanes, dan sebagainya.
Nah, sekarang merupakan fakta jika dunia kekristenan telah menghegemoni kebudayaan dunia, termasuk di Indonesia, diakui atau tidak. Sesungguhnya, yang menghegemoni dunia saat ini adalah kebudayaan yang berangkat dari keyakinan Kabbalah.
Mengenai suku Indian yang sudah masuk Islam sebelum Colombus datang ke Amerika, silakan Googling saja dengan kata “They Came Before Colombus”.
Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber
Dari banyak wawancara yang dilakukan televisi Amerika, Eropa maupun Timur Tengah terhadap mereka yang masuk Islam (mualaf) atau video-video blog yang banyak menjelaskan motivasi para new converters ini masuk Islam, menggambarkan konfigurasi latar belakang yang beragam.
Pertama, karena kehidupan mereka yang sebelumnya sekuler, tidak terarah, tidak punya tujuan, hidup hanya money, music and fun. Pola hidup itu menciptakan kegersangan dan kegelisahan jiwa. Mereka merasakan kekacauan hidup, tidak seperti pada orang-orang Muslim yang mereka kenal.
Dalam hingar bingar dunia modern dan fasilitas materi yang melimpah banyak dari mereka yang merasakan kehampaan dan ketidakbahagiaan. Ketika menemukan Islam dari membaca Alquran, dari buku atau kehidupan teman Muslimnya yang sehari-harinya taat beragama, dengan mudah saja mereka masuk Islam.
Kedua, merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya dalam agama sebelumnya . Dalam Islam mereka merasakan hubungan dengan Tuhan itu langsung dan dekat.

Demikian juga yang dirasakan oleh Idris Taufik, mantan pastur Katolik di London, ketika diwawancara televisi Al-Jazirah. Mantan pastur ini melihat dan merasakan ketenangan batin dalam Islam yang tidak pernah dirasakan sebelumnya ketika ia menjadi pastur di London. Ia masuk Islam setelah melancong ke Mesir.
Ia kaget melihat orang-orang Islam tidak seperti yang diberitakan di televisi-televisi Barat. Ia mengaku, sebelumnya hanya mengetahui Islam dari media. Ia sering meneteskan air mata ketika menyaksikan kaum Muslim shalat dan kini ia merasakan kebahagiaan setelah menjadi Muslim di London.
Ketiga, menemukan kebenaran yang dicarinya. Beberapa mualaf mengakui konsep-konsep ajaran Islam lebih rasional atau lebih masuk akal seperti tentang keesaan Tuhan, kemurnian kitab suci, kebangkitan (resurrection) dan penghapusan dosa (salvation).
Keempat, banyak kaum perempuan Amerika Muslim berkesimpulan ternyata Islam sangat melindungi dan menghargai perempuan. Dengan kata lain, perempuan dalam Islam dimuliakan dan posisinya sangat dihormati. Walaupun mereka tidak setuju dengan poligami, mereka melihat posisi perempuan sangat dihormati dalam Islam daripada dalam peradaban Barat modern.
Seorang mualaf perempuan Amerika bernama Tania, merasa hidupnya kacau dan tidak terarah jutsru dalam kebebasannya di Amerika. Ia bisa melakukan apa saja yang dia mau untuk kesenangan, tapi ia rasakan malah merugikan dan merendahkan perempuan.
Setelah mempelajari Islam, awalnya merasa minder. Setelah tahu bagaimana Islam memperlakukan perempuan, ia malah berkata “women in Islam is so honored. This is a nice religion not for people like me!”katanya. Dia masuk Islam setelah mempelajarinya beberapa bulan dari teman Muslimnya.
Perkembangan Islam di dunia Barat sesungguhnya lebih prospektif karena mereka terbiasa berfikir terbuka. Dalam keluarga Amerika, pemilihan agama dilakukan secara bebas dan independen. Banyak orang tua mendukung anaknya menjadi Muslim selama itu adalah pilihan bebasnya dan independen.
Mereka mudah saja masuk Islam ketika menemukan kebenaran disitu. Angela Collin menjadi Muslim dengan dukungan kedua orang tua. Ketika diwawancarai televisi NBC, orang tuanya justru merasa bangga karena Angela adalah seorang independent person.
Nancy seorang remaja 15 tahun, masuk Islam setelah bergaul dekat temannya keluarga Pakistan dan keluarganya tidak mempermasalahkan walaupun telah lama hidup dalam tradisi Kristen.

Penulis:
Steven Indra Wibowo
Penggiat dakwah dan Pendiri Mualaf Center Indonesia
BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber




AKHIR-akhir ini dunia maya dihebohkan dengan video di Youtube berjudul “Kristenisasi Terselubung di Car Free Day”.
Video yang diunggah 3 November 2014 ini merekam aksi sebuah kelompok yang memanfaatkan momen car free day di Jakarta untuk melakukan misi Kristenisasi.
Meski kelompok tersebut membantah adanya misi Kristenisasi, namun dalam video yang diunggah oleh rtkChannel HD ini, terlihat seorang wanita tertangkap kamera sedang mengajak seorang nenek berjilbab untuk mempercayai Yesus.
Aksi provokatif tersebut dapat dilihat pada menit 14:17 hingga menit ke 15:00. Wanita berkaus hitam dan bertopi putih dengan nada membujuk mengajak seorang nenek berkerudung untuk mempercayai Yesus. Melihat hal itu, tim rtkChannel HD menegurnya.
“Ya ampun, Bu. Jangan begitu dong, Bu. Saya denger, Bu. Kenapa Ibu tahu itu dia pakai kerudung, disuruh percaya sama Yesus,” kata tim rtkChannel HD membuat kaget misionaris tersebut. Sadar aksinya dipergoki, ia pun kemudian meminta maaf dan pergi meninggalkan calon korbannya tersebut. [Lihat: Heboh Kristenisasi Terselubung di Car Free Day Jakarta, Beritapopuler.com, Ahad (9/11)]
Sulit rasanya untuk menampik adanya upaya Kristenisasi terselubung dalam aksi tersebut. Mengingat dogma-dogma Nashrani disuntikkan secara sistematis kepada remaja-remaja muslim.
Sejatinya problem Kristenisasi bukanlah masalah baru di Indonesia. Sejak ratusan tahun umat Islam Indonesia telah berjuang di garis depan untuk mempertahankan akidahnya dari upaya pemurtadan.
Tahun 1964, tokoh Kristen Batak, Dr. Walter Bonar Sidjabat, menegaskan misi sejati kehadiran Kristen dan Gereja-gereja di seluruh pelosok Indonesia tak lepas dari agenda Kristenisasi. Dalam pengantar bukunya Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, Sidjabat menulis:
“Kita terpanggil untuk mengikrarkan iman kita di daerah-daerah berpenduduk berambut keriting, berombak-ombak dan lurus-lurus, di tengah penduduk berkulit coklat, coklat tua, kuning langsat dan sebagainyaGuna penuaian panggilan inilah gereja-gereja kita berserak-serak di seluruh penjuru Nusantara agar rakyat yang “bhineka tunggal ika”, yang terdiri dari penganut berbagai agama dan ideologi dapat mengenal dan mengikuti Yesus Kristus.” [Lihat: Dr Sidjabat, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1964]
Kejadian Car Free Day tentu membuat kita miris. Ternyata praktek penyebaran paham Kristen dilakukan di tengah masyarakat sedang menikmati waktu luang. Meski berbagai simbol Kristen sudah familiar, ternyata banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Jikapun ada yang paham, mereka terlihat acuh.
Sikap acuh umat Islam terhadap invasi akidah inilah yang membuat populasi umat Islam di Indonesia terus menurun. Data Kementerian Agama mencatat jumlah pemeluk agama Islam mengalami penyusutan tiap tahunnya. Dari yang semula 95 persen hingga menjadi 92 persen. Kemudian tahun berikutnya menjadi 90 persen dan kemudian menjadi 87 persen.
Sementara data terakhir Badan Pusat Statistik pada 2010 menunjukkan, persentase umat Islam 87,18 persen; Kristen 6,96 persen; Katolik 2,91 persen; Hindu  1,69 persen; Budha 0,72 persen; Konghucu 0,05 persen; dan lainnya 0,13 persen.
Selain itu, ada kelompok yang tidak terjawab 0,06 persen dan tidak ditanyakan 0,32 persen. [Lihat: Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianuthttp://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321]
Saat masih menjabat sebagai Menteri Agama, Suryadharma Ali mengaku heran dengan penurunan jumlah umat Islam. Dia mengaku resah dan menyesalkan kenapa hal ini bisa terjadi. “Padahal, di sisi lain jumlah penduduk Indonesia terus bertambah. Tapi, mengapa jumlah umat Islamnya sendiri malah terus berkurang,” kata dia.
Bagi kaum Muslim, persoalan misi Kristen, bukanlah masalah sepele. Orang yang berganti agama, keluar dari agama Islam, dalam pandangan Islam disebut orang yang murtad dan kafir. Amal perbuatan mereka tidak diterima oleh Allah (QS 2:217, 24:39).
Problem melawan arus Kristenisasi memang susah-susah mudah. Dalam beberapa kasus, menunjukan adanya problematika yang berbeda. Dari mulai ekonomi, politik, budaya hingga kosongnya peran dakwah. Kadang dibutuhkan pendekatan integral untuk menghadapi kompleksitas masalah Kristenisasi.
Tapi kendala-kendala itu bukan mustahil untuk diselesaikan oleh umat Islam. Banyak kiprah dakwah di pedalaman yang mengukir kisah sukses. Dari mulai warga yang kembali ke Islam setelah dikristenkan, kisah muslimah yang diselamatkan dari upaya kawin lari oleh pendeta, hingga perjuangan sebuah keluarga miskin yang tebal imannya meski diimingi-imingi ekonomi oleh gereja.
Berkat dakwah para da’i pula banyak angka buta Qur’an dapat ditekan. Kisah-kisah seperti ini sudah sepatutnya diangkat sebagai motivasi bagi kita semua.
Kolom Agama: Penguatan Identitas Warga Negara
Tentu maraknya Kristenisasi harus diimbagi dengan penguatan identitas keagamaan warga negara. Hemat penulis, pengosongan kolom agama akan meningkatkan potensi Kristenisasi kepada umat Islam.
Jika mengacu pada “kasus” Car Free Day, tentu kita bertanya-tanya: Jika seorang muslimah yang jelas-jelas memakai jilbab saja masih diajak untuk meyakini ajaran Kristen, bagaimana mereka yang tidak memakai identitas agamanya?
Seharusnya pemerintah berpikir ulang untuk menggulirkan ide bolehnya pengosongan kolom agama. Sudah sepatutnya pemerintah mendengarkan pihak-pihak terkait, khususnya Majelis Ulama Indonesia sebelum mengeluarkan wacana ini.
Jika kita ingin berpikir jauh, penghapusan kolom agama rentan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk membuka keran praktek-praktek penodaan agama, kristenisasi, hingga celah masuknya ateisme.
Kita tidak dapat membayangkan, jika kolom agama di KTP boleh dikosongkan, bagaimana seorang siswa muslim dapat mengetahui haknya bahwa guru agama mereka adalah seorang ustadz bukan pendeta. Bahwa pria yang ingin dinikahi seorang muslimah benar muslim, bukan Yahudi.
Sikap Umat Islam terhadap Kristenisasi
Berkaca dari maraknya Kristenisasi, sudah seharusnya kelompok Kristen menyadari betul bahwa akidah dalam ajaran Islam adalah segala-segalanya. Islam adalah agama toleran, tapi umat Islam bisa tegas jika urusan akidah dikooptasi.
Hal ini berbeda dengan Islam. Islam tidak pernah memaksa kaum Kristiani masuk agam Islam. Mendesak seorang Pendeta dengan todongan senjata agar mau memeluk Islam. Karena Islam mengenal ayat Lakum Dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.
Umat Islam menghargai berdirinya hak beribadah kaum kristiani di gereja. Tapi umat Islam bisa bereaksi ketika KTP mereka dipalsukan untuk memuluskan pendirian gereja ilegal.
Mohammad Natsir yang dikenal lembut dan bersahaja bisa sangat tegas jika kelompok Kristen memaksakan keimanan kepada umat Islam. Dalam sebuah khutbahnya, pahlawan nasional itu meminta kepada kelompok Kristen untuk tidak bermain api dengan akidah kaum muslimin.
“Isyhaduu bi annaa muslimun! Saksikanlah (dan akuilah) bahwa kami ini adalah Muslimin! Yakni orang-orang yang sudah memeluk agama. Agama Islam. Orang-orang yang sudah mempunyai identitas, yakni Islam. Janganlah identitas kami saudara ganggu. Jangan kita ganggu mengganggu dalam soal agama ini…” tegasnya.
Kita berharap ada langkah-langkah strategis dari pihak-pihak terkait agar kasus ini tidak terulang. Umat Islam dituntut untuk menambah ilmu pengetahuan agar modus-modus seperti ini bisa diendus dan dapat terhindar dari praktek Kristenisasi terselubung. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.
BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber
ALEX tak butuh waktu lama untuk memeluk Islam. Ketika ia menelusuri sejarah Al-Quran, ia sangat terpukau oleh kita suci yang tak pernah berubah selama 14 abad lebih ini. Berikut adalah penuturannya bagaimana ia menjadi seorang mualaf.
“Saya mengucapkan syahadat pada tahun 2010, jadi praktis, saya masih sangat baru dalam Islam.
Ini adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup saya.
Saya sedang membaca Alkitab pada perayaan Thanksgiving tahun 2010, dan saya membaca beberapa buku tentang Alkitab dan saya mulai bertanya. Saya mulai bertanya tentang agama yang berbeda, dan setelah itu saya bertanya tentang Islam. Saya mulai melakukan penelitian lebih lanjut tentang agama-agama lain, namun sebagian besar membuat saya tak tahan.
Lalu saya mulai meneliti tentang sejarah Quran. Saya mencarinya di google. Saya tertarik bahwa Kitab itu ternyata masih utuh selama 14 abad, dan satu hal mengarah ke yang lainnya, dan saya terus mencari.
Tapi titik balik saya adalah ketika saya menemukan tentang sejarah Kaabah. Saya dibesarkan oleh ajaran Katolik, saya mendapatkan pengajaran di sekolah Katolik selama 8 tahun, dan saya tidak pernah diberitahu bahwa Kaabah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Dan ketika saya menemukan bahwa Kaabah dibangun oleh mereka, saya benar-benar marah. Aku merasa seperti dibohongi oleh Gereja Katolik.
Sebelum itu, saya tidak pernah percaya pada dosa, namun saya tidak pernah mengerti bahwa: di satu sisi mereka mengajarkan Sepuluh Perintah Tuhan, namun di sisi lain mereka membuat patung-patung , sehingga itu tidak masuk akal. Dan ketika saya membaca Quran, saya menemukan Quran Explorer , dan saya mendengarkan Quran dalam bahasa Arab, dan dalam bahasa Inggris. Hanya dalam seminggu, saya yakin untuk mengcuapkan syahadat di depan computer. Dan sebulan kemudian, saya lakukan secara resmi di masjid.
Tantangan setelah syahadat
Hal yang paling sulit saya kira adalah keluarga saya.
Saya sudah berusaha menelepon semua keluarga saya, namun tidak ada yang menjawab. Tapi itu tidak mengapa, saya merasa sebagai orang paling bahagia, sehingga itu tidak menjadi masalah buat saya.
Saya ingin memberitahu mereka “Baca … Baca,” itu saja yang harus mereka lakukan, hanya membaca. Atau bahkan jangan membaca deh, dengarkan saja Quran on-line, itu juga cukup.
Saya punya pengalaman soal Ramadhan pertama saya. Seumur hidup sebelunmnya saya tidak pernah berpuasa. Saya pikir saya tidak akan mampu berpuasa. Saya benar-benar takut bahwa saya akan gagal, tapi saya berdoa, meminta kepada Allah untuk membantu saya, untuk membimbing say, dan itu adalah hal termudah yang pernah saya lakukan. Tiga hari pertama benar-benar sebuah perjuangan, tentu saja, tapi kemudian, setelahnya saya baik-baik saja.
Dalam Islam ada banyak disiplin, kesalehan, ada begitu banyak hal yang tidak bisa saya jelaskan.” [sa/islampos/onislam]
BLACKHAT SEO, Diperuntukan untuk mengcounter propaganda kafir di dunia cyber
PHILADELPHIA -- Salahuddin Cecero lahir di Philadelphia, Amerika Serikat. Hidup di lingkungan keras membuat Decero mudah terlibat obat-obatan terlarang, minuman keras dan seks bebas. Satu titik, ia ingin menapaki hidup yang lebih baik. Cecero bertransformasi menjadi pastur. Sebelum akhirnya, ia temukan Islam, dan menjadi Muslim. Alhamdulillah.

"Di usia remaja, saya hanya tahu sedikit hal. Ini yang mendorong saya jatuh ke dalam kehidupan duniawi," ucap dia seperti dilansir onislam.net, Jumat (17/10).

Hanya satu waktu, ia pergi ke gereja. Itupun sebatas, perayaan hari besar saja. Decero lebih memilih bertemu dengan teman-temannya. "Saya tidak percaya Tuhan sama sekali. Tapi keyakinan ini gugur setelah saya bertemu seseorang," kata dia.

Setiap bertemu orang ini, Decero terlibat dialog tentang ketuhanan. Kadang ia tidak tahan. Namun, kadang ia tertarik untuk membahasnya. "Saya bersedia menemukan Tuhan. Tapi saya tidak tahu siapa itu Allah. Dia mengatakan Yesus itu Tuhan dan Juru Selamat," ucapnya,.

Sejak itu, Decero mulai merasa perlu untuk mencari tahu siapa Tuhannya. Ia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan temannya itu. Seketika pula, Decero menjadi sosok yang religius. Tidak lagi menyia-nyiakan waktunya.

"Saya memiliki pikiran untuk menjadi seorang imam. Tapi saya ragu untuk mengungkapkannya," kata dia.

Mulailah Decero mewujudkan keinginanya itu. Ia mengikuti sekolah imam Katolik selama 10 bulan. Tahap akhir, Decero mencari Tuhan dimulai ketika ia bertemu dengan seorang ulama.

"Dia meminta saya bertanya tentang gereja, Yesus, Bunda Maria dan sejarah. Dia tanya, kapan Yesus mengatakan dirinya Tuhan," tanya imam itu.

Decero kaget bukan main. Ia tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu."Sejak itu, saya banyak berpikir tentang apa yang dibicarakan. Saya mulai membaca Alquran dua kali berturut-turut. Saya mulai membaca hadist Rasulullah," kata dia..

"Saya juga mulai menyelidiki bagaimana Muslim berdoa. Hingga pada empat bulan, saya semakin yakin, Yesus bukan Tuhan, apalagi anak Tuhan," kata dia.

Keyakinan itu coba ia tuangkan dalam niatan untuk mengunjungi masjid.  Decero ingin menjadi Muslim. "Ulama itu kemudian mengajari saya menjadi Muslim, dan Insya Allah menjadi Muslim yang kaffah," kata dia.