AKHIR-akhir ini dunia maya dihebohkan dengan video di Youtube berjudul “Kristenisasi Terselubung di Car Free Day”.
Video yang diunggah 3 November 2014 ini merekam aksi sebuah kelompok yang memanfaatkan momen car free day di Jakarta untuk melakukan misi Kristenisasi.
Meski kelompok tersebut membantah adanya misi Kristenisasi, namun dalam video yang diunggah oleh rtkChannel HD ini, terlihat seorang wanita tertangkap kamera sedang mengajak seorang nenek berjilbab untuk mempercayai Yesus.
Aksi provokatif tersebut dapat dilihat pada menit 14:17 hingga menit ke 15:00. Wanita berkaus hitam dan bertopi putih dengan nada membujuk mengajak seorang nenek berkerudung untuk mempercayai Yesus. Melihat hal itu, tim rtkChannel HD menegurnya.
“Ya ampun, Bu. Jangan begitu dong, Bu. Saya denger, Bu. Kenapa Ibu tahu itu dia pakai kerudung, disuruh percaya sama Yesus,” kata tim rtkChannel HD membuat kaget misionaris tersebut. Sadar aksinya dipergoki, ia pun kemudian meminta maaf dan pergi meninggalkan calon korbannya tersebut. [Lihat: Heboh Kristenisasi Terselubung di Car Free Day Jakarta, Beritapopuler.com, Ahad (9/11)]
Sulit rasanya untuk menampik adanya upaya Kristenisasi terselubung dalam aksi tersebut. Mengingat dogma-dogma Nashrani disuntikkan secara sistematis kepada remaja-remaja muslim.
Sejatinya problem Kristenisasi bukanlah masalah baru di Indonesia. Sejak ratusan tahun umat Islam Indonesia telah berjuang di garis depan untuk mempertahankan akidahnya dari upaya pemurtadan.
Tahun 1964, tokoh Kristen Batak, Dr. Walter Bonar Sidjabat, menegaskan misi sejati kehadiran Kristen dan Gereja-gereja di seluruh pelosok Indonesia tak lepas dari agenda Kristenisasi. Dalam pengantar bukunya Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, Sidjabat menulis:
“Kita terpanggil untuk mengikrarkan iman kita di daerah-daerah berpenduduk berambut keriting, berombak-ombak dan lurus-lurus, di tengah penduduk berkulit coklat, coklat tua, kuning langsat dan sebagainyaGuna penuaian panggilan inilah gereja-gereja kita berserak-serak di seluruh penjuru Nusantara agar rakyat yang “bhineka tunggal ika”, yang terdiri dari penganut berbagai agama dan ideologi dapat mengenal dan mengikuti Yesus Kristus.” [Lihat: Dr Sidjabat, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1964]
Kejadian Car Free Day tentu membuat kita miris. Ternyata praktek penyebaran paham Kristen dilakukan di tengah masyarakat sedang menikmati waktu luang. Meski berbagai simbol Kristen sudah familiar, ternyata banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Jikapun ada yang paham, mereka terlihat acuh.
Sikap acuh umat Islam terhadap invasi akidah inilah yang membuat populasi umat Islam di Indonesia terus menurun. Data Kementerian Agama mencatat jumlah pemeluk agama Islam mengalami penyusutan tiap tahunnya. Dari yang semula 95 persen hingga menjadi 92 persen. Kemudian tahun berikutnya menjadi 90 persen dan kemudian menjadi 87 persen.
Sementara data terakhir Badan Pusat Statistik pada 2010 menunjukkan, persentase umat Islam 87,18 persen; Kristen 6,96 persen; Katolik 2,91 persen; Hindu  1,69 persen; Budha 0,72 persen; Konghucu 0,05 persen; dan lainnya 0,13 persen.
Selain itu, ada kelompok yang tidak terjawab 0,06 persen dan tidak ditanyakan 0,32 persen. [Lihat: Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianuthttp://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321]
Saat masih menjabat sebagai Menteri Agama, Suryadharma Ali mengaku heran dengan penurunan jumlah umat Islam. Dia mengaku resah dan menyesalkan kenapa hal ini bisa terjadi. “Padahal, di sisi lain jumlah penduduk Indonesia terus bertambah. Tapi, mengapa jumlah umat Islamnya sendiri malah terus berkurang,” kata dia.
Bagi kaum Muslim, persoalan misi Kristen, bukanlah masalah sepele. Orang yang berganti agama, keluar dari agama Islam, dalam pandangan Islam disebut orang yang murtad dan kafir. Amal perbuatan mereka tidak diterima oleh Allah (QS 2:217, 24:39).
Problem melawan arus Kristenisasi memang susah-susah mudah. Dalam beberapa kasus, menunjukan adanya problematika yang berbeda. Dari mulai ekonomi, politik, budaya hingga kosongnya peran dakwah. Kadang dibutuhkan pendekatan integral untuk menghadapi kompleksitas masalah Kristenisasi.
Tapi kendala-kendala itu bukan mustahil untuk diselesaikan oleh umat Islam. Banyak kiprah dakwah di pedalaman yang mengukir kisah sukses. Dari mulai warga yang kembali ke Islam setelah dikristenkan, kisah muslimah yang diselamatkan dari upaya kawin lari oleh pendeta, hingga perjuangan sebuah keluarga miskin yang tebal imannya meski diimingi-imingi ekonomi oleh gereja.
Berkat dakwah para da’i pula banyak angka buta Qur’an dapat ditekan. Kisah-kisah seperti ini sudah sepatutnya diangkat sebagai motivasi bagi kita semua.
Kolom Agama: Penguatan Identitas Warga Negara
Tentu maraknya Kristenisasi harus diimbagi dengan penguatan identitas keagamaan warga negara. Hemat penulis, pengosongan kolom agama akan meningkatkan potensi Kristenisasi kepada umat Islam.
Jika mengacu pada “kasus” Car Free Day, tentu kita bertanya-tanya: Jika seorang muslimah yang jelas-jelas memakai jilbab saja masih diajak untuk meyakini ajaran Kristen, bagaimana mereka yang tidak memakai identitas agamanya?
Seharusnya pemerintah berpikir ulang untuk menggulirkan ide bolehnya pengosongan kolom agama. Sudah sepatutnya pemerintah mendengarkan pihak-pihak terkait, khususnya Majelis Ulama Indonesia sebelum mengeluarkan wacana ini.
Jika kita ingin berpikir jauh, penghapusan kolom agama rentan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk membuka keran praktek-praktek penodaan agama, kristenisasi, hingga celah masuknya ateisme.
Kita tidak dapat membayangkan, jika kolom agama di KTP boleh dikosongkan, bagaimana seorang siswa muslim dapat mengetahui haknya bahwa guru agama mereka adalah seorang ustadz bukan pendeta. Bahwa pria yang ingin dinikahi seorang muslimah benar muslim, bukan Yahudi.
Sikap Umat Islam terhadap Kristenisasi
Berkaca dari maraknya Kristenisasi, sudah seharusnya kelompok Kristen menyadari betul bahwa akidah dalam ajaran Islam adalah segala-segalanya. Islam adalah agama toleran, tapi umat Islam bisa tegas jika urusan akidah dikooptasi.
Hal ini berbeda dengan Islam. Islam tidak pernah memaksa kaum Kristiani masuk agam Islam. Mendesak seorang Pendeta dengan todongan senjata agar mau memeluk Islam. Karena Islam mengenal ayat Lakum Dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.
Umat Islam menghargai berdirinya hak beribadah kaum kristiani di gereja. Tapi umat Islam bisa bereaksi ketika KTP mereka dipalsukan untuk memuluskan pendirian gereja ilegal.
Mohammad Natsir yang dikenal lembut dan bersahaja bisa sangat tegas jika kelompok Kristen memaksakan keimanan kepada umat Islam. Dalam sebuah khutbahnya, pahlawan nasional itu meminta kepada kelompok Kristen untuk tidak bermain api dengan akidah kaum muslimin.
“Isyhaduu bi annaa muslimun! Saksikanlah (dan akuilah) bahwa kami ini adalah Muslimin! Yakni orang-orang yang sudah memeluk agama. Agama Islam. Orang-orang yang sudah mempunyai identitas, yakni Islam. Janganlah identitas kami saudara ganggu. Jangan kita ganggu mengganggu dalam soal agama ini…” tegasnya.
Kita berharap ada langkah-langkah strategis dari pihak-pihak terkait agar kasus ini tidak terulang. Umat Islam dituntut untuk menambah ilmu pengetahuan agar modus-modus seperti ini bisa diendus dan dapat terhindar dari praktek Kristenisasi terselubung. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ini semua.
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: