Heather Shaw dibesarkan dalam keluarga dengan tradisi Kristen yang taat. Itu sebabnya, semenjak kecil, Shaw terlibat dalam aktivitas religius. Itu termasuk, mengajar anak-anak di gereja.

 Sejak kecil, shaw memang tidak diperkenalkan berdekatan dengan teknologi, termasuk televisi. Ini yang kemudian mendorongnya untuk lebih banyak membaca. "Aku suka membaca, termasuk buku-buku keagamaan," kata dia seperti dilansir onislam.net, Kamis (10/10).

 Memasuki usia 12 tahun, Shaw mulai merasakan keraguan terhadap agamanya. Selama membaca literatur agama, ia tidak menemukan kebenaran. "Aku tidak menemukannya," kata dia.

 Semenjak itu, ia mulai membuat kerangka filosofis guna mencari kebenaran itu. Satu langkah awal yang dilakukan adalah mencari agama yang dikenal pertama manusia, sebuah agama yang tidak bertentangan antara teks dan faktualnya.

 "Yang paling penting, agama ini memanggil pengikutnya untuk menyembah satu Tuhan, yakni Tuhan yang Maha Esa," kata dia.

 Selama meneliti, ia menemukan banyak agama politeistik. Saat itu, Shaw belum melirik Islam. Baginya Islam itu merupakan agama baru yang lahir ratusan tahun setelah Kristen.

 Lantaran tak menemukan apa yang dicarinya, Shaw mulai merasa putus asa. Ia coba isi kekosongan itu dengan apa yang dipelajarinya, yakni agama Budha. Tapi itu tidak bertahan lama, ia pun kembali mencari.

 Suatu hari, ia menghabiskan waktu di Jepang, guna menjalani pertukaran mahasiswa. Ini merupakan momentum terbaik dalam hidupnya. Di sana, ia mempelajari konsep ketimuran, seperti kesetaraan antara pria dan wanita yang seimbang antara hak dan kewajiban.

 Tak lama, ia kembali ke AS. Sekembalinya, ia alami kecelakaan mobil. Saat itulah, ia bertemu dengan istri mekanik yang memperbaiki kendaraannya. Istri mekanik itu mengenakan rok panjang dengan syal putih yang melilit kepalanya. "Sepertinya aku pernah melihat gaya berpakaian perempuan ini," gumam Shaw ketika itu.

 Dari penampilan perempuan itu, Shaw merasakan satu ketertarikan untuk mengetahui keyakinan apa yang dipeluknya. keyakinan itu seperti sesuai dengan apa yang dicarinya. Beberapa lama kemudian, istri mekanik itu mengajak Shaw ke rumahnya. Di sana, ia menemukan sekelompok Muslim yang mempelajari Alquran.

 Di sanalah, Shaw mempelajari dan bertanya banyak hal tentang Islam. Proses itu berlangsung selama enam bulan. Namun, ia belum merasa cukup siap untuk mengucapkan syahadat. Yang pasti, ia sudah menemukan apa yang ia cari. "Tinggal aku mempersiapkan diri berkomitmen," kata dia.

 Keraguan dalam diri Shaw belum jua surut kendati ia sudah bersyahadat. Ia menyadari banyak hal yang perlu diperbaiki, dalam hal ini kecintaannya pada Islam. Kendala bahasa, masih menjadi hambatan baginya untuk belajar.

 "Saya coba belajar terus, banyak belajar," kata dia.

 Setahun kemudian, Shaw mengalami sakit. Ia divonis Limfoma. Namun, dokter yang mengobatinya meralat diagnosa itu dan mengatakan Shaw mengidap sarkoidosis, penyakit yang mempengaruhi sejumlah organ dalam tubuh.

 Selama itu, Shaw merasakan betapa berharganya waktu. Inilah yang secara perlahan mengikis keraguaannya terhadap Islam. Ia mulai mempelajari bahasa Arab, mengikuti diskusi keislaman. dan memutuskan untuk menetap di Mesir.

 "Saya percaya Mesir akan menjadi tempat terbaik," kata dia.
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: